Kamis, 14 April 2016

GAYA MENGAJAR INKLUSI (Inclusion Style)

Gaya Inklusi
Pada gaya inklusi, guru berperan sebagai pembuat keputusan dalam perencanaan, sedangkan peserta didik menentukan pilihan terhadap kelompok kegiatan dalam pelaksanaan dan evaluasi. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru terlebih dahulu menyampaikan rencana kegiatan yang akan dilakukan, dan menetapkan pembagian level, atau kelompok kegiatan atas dasar kemampuan peserta didik yang terkait dengan tingkat berat dan kesulitan aktivitas yang akan dilakukan. Misal level 1 merupakan level yang paling mudah, level 2 lebih sulit dari pada level 1, level 3 lebih sulit dari pada level 2 dan seterusnya. Disamping menetapkan pembuatan level, guru juga menetapkan kriteria kemampuan pada tiap levelnya. Selanjutnya siswa secara bebas boleh memilih aktivitas pada level yang mereka anggap sesuai dengan kemampuannya (siswa) sendiri dan siswa diberi kesempatan untuk mengevaluasi kemampuan dirinya atas dasar lembar kriteria kemampuan yang telah dibuat oleh guru dan mengambil keputusan untuk berpindah level yang ada diatasnya (yang lebih tinggi). Untuk pelaksanaan gaya inklusi, siswa terlebih dahulu harus pernah melakukan pembelajaran teknik dasar.
Tujuan Gaya Inklusi :
  •    Melibatkan semua siswa
  •    Penyesuaian terhadap perbedaan individu 
  •    Memberi kesempatan untuk memulai pada tingkat kemampuan sendiri 
  •    Memberi kesempatan untuk mulai kerja dengan tugas-tugas yang ringan ke berat, sesuai dengan tingkat kemampuan siswa 
  •    Belajar melihat hubungan antara kemampuan merasa dengan tugas apa yang dapat dilakukan oleh siswa 
  •    Individualisasi dimungkinkan, karena memilih diantara alternatif tingkat tugas yang telah disediakan
Peranan Guru:
·    Membuat keputusan pada pra pertemuan
·    Harus merencanakan seperangkat tugas-tugas dalam berbagai tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan perbedaan individu dan yang memungkinkan siswa untuk beranjak dari tugas yang mudah ke tugas yang sulit
 
Implikasi Gaya Inklusif :
  • Siswa dapat terlayani dengan perbedaan individu 
  • Adanya perbedaan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan kenyataan yang ada 
  • Fokus perhatian ke individu siswa 
  • Siswa membandingkan konsep mereka sendiri yang berkaitan dengan penampilan fisik 
  • Memilih dan merancang pokok bahasan
Keputusan-Keputusan Siswa:
·    Memilih tugas-tugas yang tersedia
·    Melakukan penafsiran sendiri dan memilih tugas awalnya
·    siswa mencoba tugasnya
·    Siswa menentukan untuk mengulang, memilih tugas yang lebih sulit atau lebih mudah, berdasarkan hasil tugas awal
·    Mencoba tugas berikutnya
·    Siswa menilai/menaksir hasil-hasilnya
·    Prosesnya dilanjutkan
 
Contoh kertas tugas gaya inklusi :
 
KERTAS TUGAS GAYA INKLUSI (CAKUPAN)

Nama Siwa      : ……………………………..
No. Absen       : ……………………………..
Kelas               : ……………………………..

Materi                         : Passing permainan sepak bola

Petunjuk umum        :
  1. Pilihlah betuk latihan passing sepak bola yang tersedia sesuai kemampuan anda.
  2. Setelah anda dapat melakukan 3 kali pada level 1 atau yang lain dapat diteruskan ke level yang lebih tinggi.
Petunjuk khusus:
  1. Siswa melakukan passing datar kearah teman.
  2. Tendangan manggunakan kaki bagian dalam.
  3. Saat passing, bola harus tetap menyusur tanah dan harus melewati 2 kun yang tertata.
  4. Usahakan arah bola tepat pada teman sehingga mudah dikontrol.
  5. Siswa yang menerima bola melakukan passing balik ke teman.
  6. Pada jarak yang lebih jauh gunakan kekuatan tendangan yang lebih besar.

Tugas
Level 1
Level 2
Level 3
Passing menggunakan kaki bagian dalam dengan jarak antara titik passing terhadap sasaran teman telah ditentukan.
Passing menggunakan kaki bagian dalam dengan teman sejauh 5 meter.
Passing menggunakan kaki bagian dalam dengan teman sejauh 5 meter, bola menyusur diantara 2 kun.
Passing menggunakan kaki bagian dalam dengan teman sejauh 7 meter, bola menyusur diantara 2 kun.
Gambar          :
Level 1




                                                                                
 5 meter
Level 2

             5 meter
Level 3
             7 meter
 

TAEKWONDO

TAEKWONDO SEBAGAI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA


Filisofis Taekwondo dan character building

Secara filosofis tergambar bahwa taekwondo turut andil dalam membentuk karakter generasi muda sehingga mereka mempunyai mental yang sangat kuat, punya nasionalisme yang tinggi dan berbudi pekerti luhur. Penanaman pendidikan karakter harus ditanamkan dalam setiap sesi latihan supaya menciptakan para taekwondoin yang bekarakter.
Kata “do” dari rangkaian kata Taekwondo mempunyai makna seni (art) yaitu seni bertingkah laku. Kata ‘do’ dalam filosofis beladiri Taekwondo mengandung makna budi pekerti yang harus melekat pada diri seseorang. Dalam peroses latihan seorang pelatih selain mengajarkan tehnik beladiri (self depent) juga sikap mental dan menanamkan budi pekerti yang luhur.
Unsur pendidikan karakter sudah melekat pada setiap unsur gerakan beladiri taekwondo seperti gerakan Kyeong-rye. Kyeong-rye adalah sebuah proses penghormatan yang diberikan kepada siapa saja baik kepada pelatih, senior, sesama taekwondoin atau kepada lawan  sebelum seorang atlit melakukan pertandingan. Dalam setiap sesion latihan atau pertandingan Kyeong-rye akan selalu dilakukan sebagai bentuk penghormatan yang menggambarkan bahwa manusia tidak boleh sombong dan angkuh. Dengan cara menundukan kepala dan sedikit membungkukan badan menandakan kita harus manaruh rasa hormat kepada siapapun bahkan kepada musuh pun kita harus hormat, ini tercermin ketika seorang taekwondoin akan melakukan fight diatas arena walaupun lawannya itu akan menjatuhkannya tapi tetap kita menghormatinya.
Penghormatan ini ternyata tidak hanya berlaku di arena latihan dan arena pertandingan, tapi kebiasaan Kyeong-rye ini melekat pada setiap anggota taekwondoin dimanapun dia berada, ketika dia bertemu dengan siapapun pasti secara reflek akan menundukan dan merundukan badan tidak melihat apakah dia anggota taekwondo atau bukan. Terlebih ketika dia bertemu dengan seorang pelatih.
Sikap hormat ini selalu melekat kepada anak dimanapun dia berada, ini sebagai cerminan apa yang ditanamkan oleh taekwondo mampu menjadi kebiasaan (habit) yang baik. Sikap hormat ini juga akan tercermin dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Sikap hormat berarti kita tunduk, taat, dan patuh pada setiap aturan yang mengatur kehidupan manusia. Kita harus taat dan patuh pada aturan yang berlaku baik itu hukum negara maupun hukum sosial.
Model pembelajaran ketaatan, ketundukan dan kepatuhan terimplementasi dalam arena pertandingan bahwa seorang atlit taekwondo harus taat dan patuh pada peraturan pertandingan (competition rules) dan menghormati setiap keputusan yang telah dikeluarkan wasit. Kita mengakui kekalahan dari lawan secara sportif dan penuh penghormatan. Kalau sikap ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari maka akan tertata tatanan kehidupan yang indah.
Sikap hormat bukan hanya bermakna pada ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku, tapi rasa hormat harus senantiasa terpancar dalam kehidupan sosial masyarakat. Negara kita adalah negara yang beranekaragam baik dari ras, suku, budaya, agama dan lain-lain, dengan taekwondo yang didasari saling menghormati maka orang akan  menjadi bagian dari taekwondo tanpa melihat perbedaan yang ada.
Dalam taekwondo kita bisa berinteraksi dengan berbagai latar belakang baik itu suku, ras, budaya, agama dan lain-lain. Ini terbukti dengan tersebarnya taekwondo di seluruh pelosok tanah air. Rasa hormat harus selalu melekat pada diri taekwondoin yaitu dengan menghormati setiap perbedaan pendapat yang ada. Setiap orang punya pemikiran yang berbeda maka kita harus menghormatinya. Ketika ada perbedaan pendapat maka kita tidak boleh memaksakan kehendak dan kita harus menghormatinya sebagai bentuk demokrasi.
Sikap Kyeong-rye tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari. Sikap hormat bukan hanya slogan semata tapi harus terwujud dalam setiap aspek kehidupan. Dengan menanamkan rasa hormat berarti kita melaksanakan janji taekwondo nomor: 3 yaitu menghormati pengurus, pelatih, senior dan sesama taekwondoin dalam mengembangkan taekwondo Indonesia.
Penanaman pendidikan karakter
            Para tokoh dan bapak pendiri bangsa (the founding father) mengatakan bahwa tantangan besar yang dihadapi bangsa kita adalah pertama: menjadikan negara yang bersatu dan berdaulat, kedua: membangun bangsa, dan ketiga: membangun karakter.  Presiden Soekarno juga mengatakan bahwa “bangsa ini harus dibangun  dengan mendahulukan pembangunan karakter (Charakter building) yang akan menciptakan bangsa yang besar, maju, dan jaya serta bermartabat”
Pendidikan karakter merupakan sesuatu yang mutlak dilaksanakan dalam unsur pendidikan. Taekwondo sebagai tempat pusat pendidikan dan latihan mempunyai tanggungjawab untuk menamkan nilai (value). Secara filosofis taekwondo mengandung nilai luhur yang senantiasa ditanamkan pada diri setiap anak anggota taekwondo. Takwondo bukan hanya mengajarkan anak untuk dapat mempelajari teknik taekwondo tapi mengajarkan unsur nilai dan budi pekerti yang luhur.
Diharapkan setiap anak yang mengikuti taekwondo  mempunyai karakter seperti: religius, jujur, toleransi, disiplin, taat, patuh, rendah hati, kerjakeras, kreatif, mandiri, demokrasi, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, simpati, empati, tanggungjawab, toleransi, seimbang, hormat, inovatif, kritis, sportif dan lain-lain yang senantiasa tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Penanaman budi pekerti dalam pendidikan beladiri taekwondo ini berintegrasi dengan misi pendidikan nasional yang menggalakan pendidikan karakter dalam rangka mendongkrak kondisi moral bangsa Indonesia yang kian hari kian terpuruk. Untuk menghindari pengaruh lingkungan negatif terhadap anak, para orangtua harus memberikan serangkaian kegiatan  positif kepada anak, salah satunya dengan mengikutkan anaknya pada klub olahraga seperti taekwondo